CERPEN

SEGITIGA PERSAHABATAN

                                        

 Namaku Alya. Umurku 14 tahun. Aku baru saja usai menghadapi UN beberapa hari yang lalu. Rencananya, hari ini aku akan berangkat ke Bogor bersama sepupuku, Kak Nita. Sebelumnya, kami telah membeli tiket kereta. Kak Nita menjemputku jam 09.00. Kami sengaja berangkat agak awal agar tak tertinggal keberangkatan kereta. Ternyata, setelah kami sampai di sana jadwal keberangkatan kereta didelay 1 jam.
”Huh lama sekali.” Gumamku dalam hati.
 Kak Nita pun hanya menghela nafas. Kami akhirnya duduk termenung sembari menunggu. 30 menit tak terasa telah terlalu, Kak Nita memintaku untuk mengantarnya ke toilet. Karena aku merasa malas maka aku menolaknya dan ia pun pergi ke toilet sendirian. Sekarang aku hanya duduk sambil mengayunkan kakiku menunggu Kak Nita. Namun tanpa sengaja aku melihat seorang lelaki turun dari kereta. Aku merasa tidak asing dengan sosok lelaki itu. Beberapa detik kemudian aku baru menyadari siapa lelaki itu. Dia adalah Kellen, orang yang sangat disukai Fasya sekaligus yang membuat kesalahpahaman antara aku dan Fasya. Fasya adalah sahabatku. Saat masa SD, aku dan Fasya adalah teman dekat. Kami sudah seperti kakak adik. Fasya memang lebih tua satu tahun dariku dan ia merupakan kakak kelasku. Namun persahabatan kami menjadi renggang semenjak kedatangan Kellen di sekolah. Kellen cukup terkenal di sekolah. Kuakui dia cukup tampan dan pintar. Dia juga berbakat dalam olahraga. Hal ini membuatnya disukai banyak wanita, salah satunya Fasya. Fasya bukan hanya mengagumi Kellen namun juga menyukainya. Setiap hari Fasya selalu bercerita tentang Kellen kepadaku.
Walaupaun awalnya Fasya hanya sebatas tahu bahwa itu Kellen, namun lama kelamaan mereka menjadi akrab karena satu kelas. Kemuadian Fasya memperkenalkan Kellen padaku. Setelah perkenalanku dengan Kellen, aku menjadi dekat dengannya dan ia pun menjadi sahabat kami. Fasya menjadi gembira karena semenjak hari itu ia lebih dekat dengan Kellen.
“Alya! Gue seneng deh bisa deket sama Kellen,”ucap Fasya bersemangat.
“Lo tau kan kalau gue suka sama dia? Dan kayaknya dia juga suka sama gue deh,”lanjutnya.
“Lo yakin dia suka sama lo? Udah lo pastiin?”jawabku.
“Hah? Maksud lo apa? Kok kayaknya lo ga suka kalau gue deket sama Kellen”bentak Fasya padaku.
“Bukannya gue nggak suka, tapi kan lo juga harus pastiin dia bener suka sama lo apa enggak. Gimana kalau dia udah punya gebetan? Nanti malah lo yang sakit hati,.”jawabku agak kesal.
“Emangnya salah kalau gue nyuruh lo buat pastiin? Toh gue juga enggak bilang kalau gue nggak suka lo deket sama Kellen,”lanjutku.
“Bener juga kata lo. Sorry udah bentak-bentak. Berarti gue harus nanya ke Kellen gitu dia suka sama siapa?”tanya Fasya sembari memastikan.
“Ya...iya. Tapi jangan to the point banget. Pake basa basi dikit lah, kan lo cewek jadi jangan terlalu kelihatan kalau lo suka sama dia,” jawabku sambil memicingkan mata.
“Oke gue paham,”ucapnya lalu meninggalkanku memasuki kelas.
Keesokan harinya seperti biasa aku, Fasya dan Kellen bermain dan bercanda bersama. Karena aku suka makan jadi aku mengajak mereka nongkrong di kantin. Disana Fasya lebih sering ngobrol sama Kellen dan aku lebih banyak diam mendengarkan mereka sambil menikmati makananku. Terkadang saat aku hanya diam, Kellen mengajakku bicara dan merebut snack yang ku makan. Dan itu membuatku merasa kesal. Selanjutnya mereka akan tertawa bersama, membuatku yang ingin marah justru ikut tertawa dengan mereka. Namun tiba-tiba saja Fasya menyerukan nama Kellen.
“Kellen!”
“Apa?”jawab Kellen sedikit terkejut karena tiba-tiba namanya disebut.
“Mmm...lo lagi deket sama siapa?” tanya Fasya yang menurutku agak to the point.
“Maksud Fasya itu lo kan sahabat kita, jadi mungkin kalau lo lagi suka atau deket sama orang bisa lah cerita dikit sama kita. Tapi kalau lo nggak mau juga gapapa, itu hak lo sih.”ucapku berusaha menjelaskan.
“Ah itu maksud gue.”balas Fasya dengan singkat.
“Oh gapapa kok. Kalian kan sahabat gue jadi wajar aja nanya gitu.”jawab Kellen.
“Kalau deket sih sama banyak orang, termasuk sama kalian. Tapi kalau suka sebenernya ada.” Lanjutnya sambil sedikit memikirkan sesuatu.
“Siapa?”tanya Fanya penuh semangat. Dan berharap itu dia.
“Kalau itu gue belum bisa kasih tau kalian. Tapi orangnya itu pinter dan baik banget. Terus care banget sama orang lain. Posturnya ideal dan dia juga suka olahraga kayak gue. Dan yang jelas dia itu pake hijab.”jawab Kellen bersemangat.
Seketika senyum diwajah Fanya pun padam, karena jelas orang itu bukan dia. Fasya tidak memakai hijab. Dia juga tidak terlalu suka olahraga. Aku yang tau bagaimana perasaan Fasya pun segera pamit pada Kellen untuk ke toilet dan menyuruh Kellen masuk kelas karena kebetulan bel sudah memanggil mereka. Dan di depan toilet aku mulai berbicara dengan Fasya.
“Udah sabar aja,nanti lo juga dapet pengganti Kellen. Lagian temen satu kelas lo kan banyak yang ganteng tuh,tinggal pilih aja.” ucapku sambil mengelus pundak Fasya.
“Lo bilang gitu karena enggak tau rasanya jadi gue”jawab Fanya sedikit ketus.
“Ya tapi cowok itu gampang dicari jadi buat apa lo murung gini? Lagian kita itu masih kecil paling juga cinta monyet.”timpalku masih bersabar.
“Terserah lo mau bilang gue cinta monyet atau apa ya, gue nggak peduli. Kalau yang gue rasain gini mau gimana lagi? Gue cuma mengikuti apa yang gue rasakan.”jawabnya semakin ketus.
“Ya terus sekarang mau lo apa?”balasku mulai kesal.
“Gue mau cari tau siapa cewek itu.”ucapnya datar.
“Oke terserah.”jawabku singkat.
Kami pun kembali ke kelas masing-masing. Keesokan harinya aku tidak bersama mereka. Aku masih kesal dengan Fasya dan ia pun sibuk pada tujuannya. Dan beberapa hari berlalu. Aku tidak pernah bertemu dengan Fasya. Hanya bertemu dengan Kellen dan itu pun tidak lama,sekedar menyapa dan bercanda seperlunya karena aku selalu izin masuk kelas. Entah mengapa aku merasa bahwa Fasya menjauhiku. Beberapa kali aku melihat dia di depan kelas namun saat aku menghampirinya dia malah masuk kelas. Begitupun saat pulang sekolah. Dia akan langsung pulang tanpa menyapaku atau menungguku. Bahkan saat aku meneriakkan namanya dia tidak peduli sedikitpun. Karena aku mulai kesal dengannya, pada sore hari akupun mendatangi rumahnya. Sesampainya di rumah Fasya aku menemuinya dan meminta penjelasan padanya mengapa ia menjauhiku.
“Kenapa tiba-tiba lo menjauh dari gue? Gue ada salah sama lo? Kalau ada gue minta maaf. Atau lo ada masalah? Kalau iya cerita dong jangan kayak gini,”ucapku to the point.
“Yang jadi masalah gue itu ya lo. Karena lo udah hancurin harapan gue buat sama Kellen,”bentak Fasya.
“Gue? Kenapa gue? Apa salah gue?” ucapku bingung.
“Lo tau nggak cewek berhijab yang dimaksud Kellen? Orang itu adalah lo,.”ucapnya menunjukku sambil menahan amarah.
Dan seketika itu aku terdiam.
“Kenapa diem? Kaget? Lo ngga nyangka? Gue juga sama ngga nyangka,”ucap Fasya.
“Udah deh, nggak usah sok kaget begitu, apa susahnya sih jujur sama gue,” lanjut Fasya.
“Dan permintaan maaf lo belum bisa gue terima. Gue masih berharap sama Kellen jadi gue mohon jauhin Kellen.” pinta Fasya.
Semenjak saat itu aku tidak pernah berbicara dengan Fasya. Aku juga tidak pernah bertemu Kellen, karena Fasya pun selalu menghalanginya. Dan aku pun memutuskan untuk menjauhi Kellen hingga kenaikan kelas juga perpisahan mereka aku tetap menjauhi Kellen. Sedangkan Fasya, meski dia lebih dekat dengan Kellen dia tidak pernah berbicara padaku.
“Woi! Ngelamun mulu! Mikir apaan, sih?” Kak Nita menepuk bahuku.
Aku tersadar dari lamunanku. Namun tidak dengan pandangku, aku masih memandang Kellen hingga Kak Nita melambaikan tangannya tepat di depan wajahku.
“Eh, Kak! Beliin gue minum, dong, gue haus!”ucapku sambil memegang leher.
Kak Nita pun pergi membelikanku minum. Tanpa aku sadari tiba-tiba Kellen sudah ada di depanku. Aku pun terkejut namun aku berusaha menutupinya.
“Mmm...lo Alya kan?” tanyanya tiba tiba.
“Ini anak bego kali ya? Main nanya pake lo gue. Gimana kalau dia salah orang? Nggak malu apa?” pikirku.
“Eh iya. Kamu Kellen, kan?” tanyaku.
“Hah bener ternyata. Iya gue Kellen. Masih inget gue ternyata, kirain lupa.”ucapnya sedikit tertawa.
“Inget lah. Gue kan punya ingatan yang cukup tinggi.”timpalku sambil bercanda.
“Bagus lah kalau gitu. Btw nih gue pengen nanya sesuatu sama lo.”ucapnya.
“Apa?”jawabku penasaran.
“Kenapa dulu lo jauhin gue? Terus dulu gue liat lo lama nggak ngobrol atau ketemu sama Fasya. Kenapa?” tanya Kellen yang seakan menohokku.
“Mmm... sebelumnya gue minta maaf sama lo karena tiba-tiba ngejauhin lo. Gue nglakuin itu supaya lo bisa lebih deket sama Fasya dan bisa melupakan perasaan lo ke gue. Fasya itu suka sama lo tapi dia tau kalau lo suka gue. Gue rasa dia juga salah paham dan takut kalau gue bakal nikung dia, jadi dia minta gue buat jauhin lo.”jelasku.
“Tapi kenapa lo langsung jauhin gue tanpa penjelasan sedikit pun?” tanyanya lagi kali ini dengan tatapan serius.
“Maaf. Gue gatau harus jelasin apa ke lo. Lagipula waktu itu lo udah deket sama Fasya dan nggak pernah lagi bicara sama gue, jadi gue pikir ya lebih baik diem aja nunggu persahabatan gue sama Fasya membaik. Tapi ternyata enggak. Fasya tetap diam sama gue hingga kalian lulus dan gue nggak pernah ketemu lagi sama kalian sampai akhirnya hari ini nggak sengaja ketemu lo. Terus setahu gue Fasya udah pindah ke luar kota. ”jelasku.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Kellen, Kak Nita pun datang membawa minuman untukku.
“Alya ini siapa?” tanyanya padaku dengan sedikit senyuman nakal.
“Ih... Apaan sih Kak?"Jawabku jengah oleh senyuman Kak Nita.
"Ini kenalin Kellen kakak kelas gue waktu SD. Dan Kellen kenalin ini Kak Nitta sepupu gue” Lanjutku sambil memperkenalkan Kellen dan mereka pun saling berkenalan.
            Dan akhirnya waktu keberangkatan kami tiba. Aku pun mengucapkan salam perpisahan kepada Kellen dan bergegas untuk pergi. Sedangkan kisah kami masih sama seperti dulu. Masih dalam kesalahpahaman tanpa ujung ataupun kejelasan karena aku tak pernah bertemu Fasya semenjak kelulusannya, apalagi untuk berbicara. Hanya saja sekarang hubunganku dan Kellen membaik seperti awal persahabatan kami. 

11 komentar: